PENJADWALAN FLOWSHOP
DENGAN METODE HEURISTIK MULTIPLE OBJECTIVE TERBOBOTI
Dyah Herawatie, Eto Wuryanto
Departemen Matematika, Fak. Sains dan Teknologi Universitas
Airlangga
Email : dyah_hera@fst.unair.ac.id, eto-w@fst.unair.ac.id
Abstrak
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang
telah dilakukan Rajendran (1995), yang telah mengembangkan algoritma CDS
(Cambell, Dudek, Smith) untuk penjadwalan flowshop dengan menggunakan multiple
objective. Penelitian ini memodifikasi fungsi tujuannya dengan memberi bobot,
berdasarkan derajat kepentingannya. Disamping itu juga akan dikembangkan
algoritma baru, yang merupakan pengembangan dari algoritma RA (Rapid Acess).
Menurut Sahu (2009), algoritma RA yang merupakan modifikasi dengan
menggabungkan keuntungan dari Palmer’s slope index dan CDS lebih efisien jika
dibandingkan dengan algoritma lain.
Dari penelitian ini, dapat diambil kesimpulan antara lain :
dari beberapa data yang digunakan, algoritma RA tidak selalu menghasilkan
jadwal yang lebih baik dari algoritma CDS. Selain itu dengan bobot yang
ditambahkan pada fungsi relativitas, akan bisa menghasilkan jadwal yang lebih
baik lagi. Dalam penelitian ini ditunjukkan dengan semakin kecilnya nilai
makespan, total flow time, dan total idle time. Hal ini terjadi pada data 3
(10X5), data 4 (10X10), dan data 5 (10X8). Jika data yang digunakan berukuran
kecil (jumlah job X banyaknya mesin), maka penambahan bobot kurang mempengaruhi
solusi yang diperoleh. Hal ini ditunjukan pada data 1 (5X3) dan data 2 (5X5).
Kata kunci : Penjadwalan flowshop, algoritma CDS, algoritma
RA, multiple objectives.
Abstract
Rajendran (1995) has developed an algorithm CDS (Cambell,
Dudek, Smith) for flowshop scheduling using multiple objective. This research
was added on the Rajendran’s function of the goal with weighting based on the
degree of importance. Besides, it was also made a new algorithm with weighted
multiple objective that is the development of algorithm RA (Rapid Acess). RA
algorithm is a modified version by combining the advantages of Palmer's slope
index and CDS. This algorithm is more efficient than other algorithms (Sahu,
2009).
The results of this research are: The RA algorithm does not
always produce a better scheduling than CDS algorithm. The weighted function of
relativity will be able to obtain a best scheduling. This is shown by the data
3 (10 jobs X 5 machines), data 4 (10 X 10), and data 5 (10 X 8). In case of
small data (data 1 (5 X 3) and data 2 (5 X 5)), the additional weight not
affect to the gained solution.
Key word : Flowshop scheduling, CDS algorithm, RA algorithm,
multiple objectives.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Penjadwalan merupakan salah satu bagian penting dalam bidang
industri, terutama di bagian manufaktur dan produksi. Permasalahan penjadwalan
di bidang produksi meliputi pengaturan job-job yang akan diproses pada
serangkaian mesin dengan
urutan job yang sama berlaku untuk setiap mesin dan setiap
mesin hanya memproses sebuah job pada saat yang sama. Masalah ini dikenal
dengan istilah flowshop. Permasalahan utama pada flowshop adalah menentukan
urutan job yang akan dipertahankan di sepanjang sistem yang memenuhi fungsi
tujuan.
Permasalahan penjadwalan flow shop diperkenalkan oleh S.M
Johnson pada tahun
1954 dengan permasalahan yang dikemukakan berupa
permasalahan penjadwalan flow shop 2-mesin dengan fungsi tujuan meminimumkan makespan.
Beberapa algoritma yang bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan
penjadwalan flow shop m-mesin, antara lain algoritma Palmer, Gupta, CDS
(Cambell, Dudek, Smith), dan algoritma heuristik RA (Rapid Acess). Algoritma
ini mempunyai fungsi tujuan meminimumkan makespan.
Selain makespan, fungsi tujuan yang sering digunakan sebagai
ukuran efektifitas untuk permasalahan penjadwalan permutation flowshop antara
lain total flow time, idle time mesin, dan tardiness (keterlambatan dalam
proses produksi).
Rajendran (1995) mengemukakan sebuah algoritma heuristik
untuk permasalahan penjadwalan permutation flowshop m-mesin dengan multiple
objectives atau fungsi tujuan lebih dari satu. Dalam algoritma ini, jadwal awal
diperoleh dari algoritma CDS. Setelah jadwal awal melalui beberapa iterasi
terbentuklah sebuah jadwal baru. Dari tiap jadwal yang didapat kemudian
dibandingkan efektivitas kedua jadwal dengan cara membandingkan nilai
relativitas multiple objectives jadwal awal dengan nilai relativitas multiple
objectives jadwal baru. Jadwal dengan nilai relativitas paling minimum akan
diiterasi lagi hingga didapatkan nilai multiple objectives paling minimum.
Jadwal dengan nilai multiple objectives paling minimum menjadi solusi dari
penjadwalan permutation flow shop m-mesin.
Sahu (2009) dalam tesisnya melakukan survey terhadap
metode-metode dalam penjadwalan flowshop dengan membanding-kan keefektifan
algoritma Palmer, Gupta, CDS (Cambell, Dudek, Smith), dan algoritma heuristik
RA. Ukuran efektivitas yang digunakan dalam survey tersebut adalah makespan.
Dari hasil survey ini diperoleh kesimpulan bahwa algoritma RA memberikan hasil
yang paling efisien.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka perlu
dilakukan penelitian yang lebih mendalam tentang penjadwalan flowshop dengan
multiple objective. Dalam penelitian ini akan dikembangkan algoritma yang telah
dikemukakan oleh Rajendran (1995), yaitu dengan menambahkan bobot dalam fungsi
obyektifnya. Tujuan digunakannya bobot dalam fungsi obyektifnya adalah untuk memberikan
kepentingan relatif di antara
fungsi–fungsi tujuan yang digunakan. Selain itu akan
dikembangkan algoritma baru dengan jadwal awal menggunakan algoritma RA, dan
menggunakan multiple objective terboboti. Dan selanjutnya akan dilakukan
perbandingan terhadap kedua algoritma tersebut.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan :
1. Mengembangkan
algoritma CDS yang telah dilakukan Rajendran (1995) dengan menggunakan multiple
objective terboboti.
2. Menyusun algoritma penjadwalan
flowshop baru dengan jadwal awal menggunakan algoritma RA
menggunakan multiple objective terboboti.
3. Mengimplementasikan
algoritma tersebut ke dalam program JAVA.
4. Membandingkan
keefektifan kedua algoritma tersebut dengan menggunakan data sekunder.
STUDI PUSTAKA
Penjadwalan Flowshop
Seperti dijelaskan oleh Sahu (2009), penjadwalan flowshop
sejenis dengan masalah kombinatorial. Penjadwalan flowshop merupakan sebuah
permasalahan perencanaan produksi dengan n-job (item, tugas, dan lain-lain)
yang harus diproses dalam urutan yang sama pada setiap m-mesin.. Masing-masing
job mempunyai processing time yang berbeda untuk mesin yang berbeda. Beberapa
karakteristik dari penjadwalan flowshop, antara lain :
1. Terdapat
m mesin dan n job
2. Masing-masing
job terdiri dari m operasi dan masing-masing operasi membutuhkan mesin yang
berbeda
3. Ke-n job
diproses dalam urutan yang sama pada m mesin
4. waktu
pemrosesan dari job ke-i pada mesin ke-j dinotasikan dengan tij (i = 1,
2, ...n, dan j = 1, 2, ... m)
5. Disusun
sebuah jadwal berupa urutan job, yang akan memenuhi tujuan tertentu. Tujuan
yang sering digunakan adalah meminimumkan makespan.
Dalam penjadwalan flowshop digunakan asumsi antara lain :
1. Setiap
job diproses pada semua mesin berdasarkan urutan tertentu
2. Setiap
mesin hanya memproses satu job pada suatu waktu
3. Setiap
job diproses pada satu mesin pada suatu waktu
4. Operasi
tidak pre-emptif
5. Waktu
set-up untuk sebuah operasi adalah sequence-independent dan tidak termasuk
dalam waktu pemrosesan.
Untuk menyelesaian permasalahan penjadwalan flowshop,
dikenal beberapa metode penjadwalan, antara lain (Sahu (2009))
1. Masalah flowshop 2 mesin :
a. Algoritma
Johnson
b. Algoritma
Kusiak
2. Metode heuristik untuk masalah penjadwalan n-job m-mesin
:
a. Algoritma
heuristik Palmer
b. Algoritma
heuristik Gupta
c. Algoritma
heuristik CDS
d. Algoritma
heuristik RA
Ukuran efektivitas
Dalam penjadwalan digunakan beberapa ukuran efektifitas.
Ukuran ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari sebuah jadwal. Dalam Sahu
(2009), disebutkan beberapa ukuran efektivitas yang digunakan dalam penjadwalan
flowshop antara lain :
a. Rata-rata
waktu penyelesaian pekerjaan
b. Rata-rata
lamanya waktu pekerjaan
c. Lateness
d. Rata-rata
lamanya waktu suatu job akan terlambat (due-date)
e. Makespan
(waktu yang dibutuhkan oleh job terakhir untuk keluar dari sistem)
f. Total
flow time merupakan jumlahan dari flow time (waktu yang dibutuhkan oleh job j
untuk keluar dari sistem)
Sedangkan dalam Heizer & Render (2008), beberapa
kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi kinerja penjadwalan antara lain :
a. Meminimalkan
waktu penyelesaian. Kriteria ini dievaluasi dengan mnentukan waktu penyelesaian
rata-rata untuk setiap pekerjaan.
b. Memaksimalkan
utlisasi. Kriteria ini dievaluasi dngan menghitung persentase waktu suatu
fasilitas digunakan.
c. Meminimalkan persediaan barang
setengah jadi (work in process-WIP). Kriteria ini dievaluasi
dengan menentukan jumlah pekerjaan rata-rata dalam sistem. Hubungan antara
benyaknya pekerjaan dalam sistem da persediaan WIP akan tinggi. Oleh karen itu,
jika terdapat lebih sedikit pekerjaan dalam sistem, maka persediaan yang ada
lebih rendah.
d. Meminimalkan
waktu tunggu pelanggan. Kriteria ini dievaluasi dengan menentukan keterlambatan
pekerjaan rata-rata.
Algoritma CDS (Campbell, Dudek, Smith)
Algoritma CDS merupakan salah satu algoritma umum yang
digunakan untuk menjadwalkan urutan job pada permasalahan flowshop dengan lebih
dari 2 mesin guna mendapatkan sebuah waktu penyelesaian atau makespan yang
mendekati minimum. Algoritma ini merupakan pengembangan dari algoritma Johnson.
Langkah-langkah dalam algoritma CDS (Cambell, et al 1970 dan Hong et al., 2001)
:
1. Set variabel i = 0.
2. Set variable i = i + 1 ,
a. Untuk j = 1 sampai m-1 hitung
ti′1 = ti′1 +t′
ij
b. Untuk j = m sampai 2 hitung
ti′2 = ti′2 + t′ij
3. Hitung U = {j t1 j < t2j } dan V = { j t1j ≥ t2j }
4. Urutkan job dalam U dengan urutan non-decreasing dari
ti′1
5. Urutkan job dalam V dengan urutan non-increasing dari
ti′2
6. Sequence yang optimal diperoleh sebagai jadwal S didapat
dengan menggabungkan job yang telah diurutkan dalam himpunan U diikuti dengan
urutan job yang telah diurutkan dalam himpunan V dengan makespan yang minimum.
7. Kembali ke langkah 2 hingga i = n.
Algoritma RA (Rapid Acess)
Algoritma RA dikembangkan oleh Dannenbring yang berusaha
menggabungkan keuntungan dari Slope index Palmer dan prosedur CDS. Dalam Sahu
(2009), dijelaskan langkah-langkah dari algoritma heuristik RA :
1. Set
variabel i = 0.
2. Set
variable i = i + 1 ,
Untuk j = 1 sampai m-1 hitung wj1 =m−(j−1), wj 2 = j
ti1 ′= f m j1 wj 1 tij dan
ti 2
′ = m j 1
wj2tij
= =
Dengan pembobotnya didefinisikan sebagai berikut :
W = wj j =
1 { 1 1,2,
... } { , 1, ...2,1}
m = m m −
W {wj j
= =1,2, ...
m } { m m}
= 1,2, ... , 1,
−
2 2
3. Hitung U = { j t1′j < t′2j } dan
V = {j t′1j ≥t′2j }
4. Urutkan
job dalam U dengan urutan non-decreasing dari ti′1
5. Urutkan
job dalam V dengan urutan non-increasing dari ti′2
6. Sequance
yang optimal diperoleh sebagai
jadwal S didapatkan dengan
menggabungkan job yang telah diurutkan dalam himpunan U
diikuti dengan urutan job yang telah diurutkan dalam himpunan
V dengan makespan yang minimum.
7. Kembali
ke langkah 2 hingga i = n.
Pengembangan Algoritma Heuristic CDS dengan Multiple
Objective
Pengembangan algoritma heuristic CDS dengan multiple
objective dikemukakan oleh Chandrasekharan Rajendran. Dalam algortima ini,
digunakan tiga fungsi tujuan, yaitu meminimumkan makespan, total flow time, dan
total idle-time mesin.
Makespan dari jadwal parsial óá dirumuskan
dengan M = q(σα, m)
Total flow time dari job-job dalam óá dirumuskan dengan Fóá
= Fó + q(óá, m)
Sedangkan total idle time dari mesin-mesin, hasil dari
jadwal parsial óá dirumuskan dengan
m
I = Ió +E[max(q(óá, j −1)− q(ó, j)}0]
j=2
dengan : ó
q(σ, j) : Himpunan
(set) jadwal dari total
n job
: completion time dari jadwal
partial ó pada mesin ke-j
Secara garis besar, langkah-langkah dari algoritma ini
adalah sebagai berikut (Rajendran, 1995):
1. Dapatkan jadwal awal dengan
menggunakan algoritma CDS. Dapatkan jadwal utama S dari
iterasi job yang dilakukan dengan cara penukaran job berpasangan dari jadwal
awal dengan tujuan utama mendapatkan makespan minimum.
2. Hitung
D[r ] dan D′r[] dari jadwal utama S, dengan rumus:
m m
D r
[ ] = i 1 t i r
= [ ] − (1)
i i r
= [ + ]
1 t 1
m
D [ ′ ]
= = { −+1}t[r] −m1{m−i+1}t[r+1]
(2)
D[r ] merupakan hasil pengurangan flow
time job di posisi ke-r dengan flow time job di posisi ke
r+1.
3. Bentuk
ranked list untuk D[r] ≥ 0.
4. Jika
ranked list null maka STOP. Jika ranked list tidak null, tukar posisikan job di
jadwal S berdasarkan job yang berada di ranked list, maka akan didapatkan
jadwal baru S′.
5. Urutkan
job yang berada dalam ranked list
dengan urutan D[r ] yang menurun. Jika ada dua atau lebih
job dengan nilai D[r ]
yang sama di ranked list, maka job diurutkan berdasarkan
nilai D′[r] yang
menurun.
6. Misalkan,
dari jadwal S, job pertama di ranked list adalah job [q], posisi job ke-q
ditukarkan dengan posisi job ke-q+1, dan sebaliknya. Terbentuk jadwal baru, yang
dinotasikan dengan S’.
7. Bandingkan
relativitas kenaikan pada nilai multiple objectives jadwal S′ terhadap jadwal
S.
M' min( ', )
− M M F'
min( ', )
− F F
Rs = +
' min(M',
M) min(F',F)
+ I'−min(I',I) (3)
min( ', )
I I
M − min( ', )
M M F − min( ', )
F F
Rs = + min(M',
M) min(F',F)
+ I − min(I', I) (4)
min( ', )
I I
8. Jika Rs '
< Rs , maka set S = S′, F = F’, M = M’, I = I’, dan ulangi langkah 2. Jika
tidak, lanjutkan ke langkah 9.
9. Job [q]
dihapus dari ranked list. Setelah penghapusan, jika ranked list tidak null maka
ulangi langkah 6. Jika ranked list null maka lanjutkan ke langkah 10.
10. Jadwal S
merupakan solusi dari permasalahan. STOP.
METODE PENELITIAN
Langkah-langkah yang dilakukan untuk mendapatkan
penyelesaian dari masalah penjadwalan flowshop dengan multiple objective
terboboti adalah sebagai berikut :
1. Melakukan
penelusuran, penelahaan literatur, serta diskusi yang intensif, yang membahas
tentang penjadwalan flowshop yang berhubungan antara lain dengan algoritma
heuristik CDS, pengembangan algoritma CDS dengan multiple objectives, serta
algoritma heuristik RA.
2. Menyusun
pengembangan algoritma Rajendran dengan multiple objectives terboboti.
3. Menyusun
pengembangan algoritma RA dengan multiple objectives terboboti.
4. Mengimplementasikan kedua
algoritma tersebut (algoritma CDS dengan multiple objectives
terboboti dan algoritma RA dengan multiple objectives terboboti) ke dalam
program bahasa JAVA.
5. Membandingkan
keefektifan algoritma dengan menggunakan data sekunder.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengembangan Algoritma Rajendran dengan Mutiple Objective
Terboboti
Pengembangan algoritma heuristik CDS dengan multiple
objective dikemukakan oleh Chandrasekharan Rajendran (Rajendran, 995). Pada
dasarnya, relativitas yang harus dihitung pada langkah 7 pada algoritma ini,
bisa ditulis dengan :
G − min( ', )
G G G − min( ' , )
G G
1 1 1 2 2 2
Rs = + min(G1',
G1) min(G2', G2)
G3− min(G3 ', G3 )
Dengan Gi adalah tujuan yang dikehendaki. Dalam algoritma
Rajendran, digunakan tiga tujuan, yaitu meminimumkan makespan, total flow time,
dan total idle-time mesin.
Secara umum, jika digunakan n tujuan dan ditambahkan bobot
dalam fungsi obyektifnya, rumus relativitasnya menjadi :
G G G G
− min( ', )
G G
1 − min( ', )
1 1 2 2 2
R w
= + w
s 1 2
min( ', )
G G min( ', )
G G
1 1 2 2
G −
min(Gn ', Gn )
+ +
... w (6)
nmin(Gn', Gn )
Modifikasi ini menghasilkan perubahan mulai pada langkah
ke-7 dari algoritma Rajendran sebagai berikut :
7. Bandingkan relativitas kenaikan pada nilai multiple
objectives jadwal S′ terhadap jadwal S.
G1'−
min(G1 ', G1) G2'−min(G2', G2)
+ w 2
min( ', )
G G min( ', )
G G
1 1 2 2
G ' min( ', ) − G G
n min( ' , )
G G
n n
G − min( ', )
G G G min( ', )
1 G G
1 1 2 − 2 2
R w
= + w
s 1 2
min( ', )
G G min( ', )
G G
1 1 2 2
G − min( ' , )
G G
n n n
+ +
... w (8)
n min( ' , )
G G
n n
Dengan 0 ≤ wi ≤ 1, dan w1+w2+...+wn =1
8. Jika Rs '
< Rs , maka set S = S′, G1 = G1', G2 = G2' , ... Gn = Gn' , dan
ulangi langkah 2. Jika tidak, lanjutkan ke langkah 9.
9. Job [q]
dihapus dari ranked list. Setelah penghapusan, jika ranked list tidak null maka
ulangi langkah 6. Jika ranked list null maka lanjutkan ke langkah 10.
10. Jadwal S
merupakan solusi dari permasalahan. STOP.
Pengembangan Algoritma RA dengan Mutiple Objective Terboboti
Dalam penelitian ini dikembangkan algoritma baru, dengan
melakukan modifikasi algoritma yang dikembangkan oleh Rajendran (1995). Jika
pada algoritma Rajendran, jadwal awal diperoleh dari algoritma CDS. Maka dalam
penelitian ini digunakan algoritma RA.
Modifikasi algoritma ini dapat dituliskan sebagai berikut :
1. Dapatkan
jadwal awal dengan menggunakan algoritma RA. Dapatkan jadwal utama S dari
iterasi job yang dilakukan dengan cara penukaran job berpasangan dari jadwal
awal dengan tujuan utama mendapatkan makespan minimum.
2. Hitung
D[r ] dan D′r[] dari jadwal
utama S, dengan rumus:
mti[r] −~m i 1 ti[r+1] (9)
m m
D = { } [ ] =
{ } [ + ]
[ ]
′ = m i t
1
− + − m i t
− + 1
r i 1 i r i
1 i r 1
(10)
D[r ] merupakan hasil pengurangan
flow time job di posisi ke-r dengan
flow time job di posisi ke r+1.
3. Bentuk
ranked list untuk D[r] ≥ 0.
4. Jika
ranked list null maka STOP. Jika ranked list tidak null, tukar posisikan job di
jadwal S berdasarkan job yang berada di ranked list, maka didapat jadwal baru
S′ .
5. Urutkan
job yang berada dalam ranked list dengan urutan D[r ] yang menurun.
Jika ada dua atau lebih job dengan nilai D[r ] yang sama di
ranked list, maka
job diurutkan berdasarkan nilai D′r[]
yang menurun.
6. Misalkan,
dari jadwal S, job pertama di ranked list adalah job [q], posisi job ke-q
ditukarkan dengan posisi job ke¬q+1, dan sebaliknya. Terbentuk jadwal baru,
yang dinotasikan dengan S’.
7. Bandingkan
relativitas kenaikan pada nilai multiple objectives jadwal S′ terhadap jadwal
S.
G ' min( ' , )
G G G ' min( ' , )
− G G
1 − 1 1 2 2 2
R w
= + w
s ' 1 min(G1'
, G1) 2 min(G2'
, G2)
G ' min(
' , )
− G G
n n n
+ +
... w (11)
n min(Gn' , Gn )
G − min( ' , )
G G G − min( ' , )
G G
1 1 1 2 2 2
R w
= + w
s 1 min(G1
' , G1) 2 min(G2
' , G2)
+...+w
Gn −min(Gn',Gn) (12)
n min(Gn',Gn)
Dengan 0≤ wi ≤ 1, dan
w1+w2+...+wn =1
8. Jika Rs '
< Rs, maka set S = S′, G1 = G1', G2 = G2' , ... Gn = Gn' , dan
ulangi langkah 2. Jika tidak, lanjutkan ke langkah 9.
9. Job [q]
dihapus dari ranked list. Setelah penghapusan, jika ranked list tidak null maka
ulangi langkah 6. Jika ranked list null maka lanjutkan ke langkah 10.
10. Jadwal S
merupakan solusi dari permasalahan. STOP.
Perbandingan Hasil Penjadwalan dan Analisis
Untuk tujuan perbandingan, dalam penelitian ini digunakan 6
data, yang diambil dari beberapa sumber, antara lain :
a. Data 5
job 3 mesin dari Rajendran (1995)
b. Data 5
job 5 mesin dari Ravindran (2005)
c. Data 10
job 5 mesin dari Kattan (2003)
d. Data 10
job 10 mesin dari Sahu (2009)
e. Data 10
job 8 mesin dari Sahu (2009).
Dengan keenam data ini, akan dibuat jadwal dengan menggunakan
enam algoritma, antara lain :
1. CDS
2. RA
3. Pengembangan
CDS dengan Mutiple
Objective (Rajendran atau CDS MO)
4. Pengembangan
RA dengan Mutiple Objective (RA MO)
5. Pengembangan
CDS dengan Mutiple Objective Terboboti (CDS MOT)
6. Pengembangan
RA dengan Mutiple Objective Terboboti (RA MOT)
Bobot yang digunakan pada algoritma CDS dengan Mutiple
Objective Terboboti, dan RA dengan Mutiple Objective Terboboti
mempunyai syarat 0<_ wi <_ 1, dan
w1 + w2+... + wn =1. Dalam penelitian ini,
bobot yang digunakan wi = 0, 0.1, 0.2, 0.3, 0,4, 0,5 ... ,
1. Sebagai ukuran efektivitas, dalam penelitian ini akan digunakan makespan,
total flow time, dan total idle time.
Data 5 job 3 mesin dari Rajendran, 1995 Dengan menggunakan
data pada tabel 1, dan menggunakan keenam algoritma diperoleh hasil penjadwalan
seperti pada tabel 2, dengan
M = makespan, F = total flow time, dan I = total idle time.
Algoritma CDS dan RA bertujuan sama, yaitu mendapatkan jadwal dengan makespan
minimum. Pada data 2, dengan menggunakan algoritma CDS dan RA, diperoleh
makespan 51. Meskipun kedua algoritma menghasilkan makespan yang sama, tetapi
RA menghasilkan jadwal dengan total flow time dan total idle-time mesin yang
lebih kecil.
Tabel 1. Data (5X3) dari Rajendran (1995)
M1 M2 M3
J1 5 10 9
J2 2 3 7
J3 7 9 3
J4 3 2 18
J5 4 3 9
Tabel 2. Hasil Penjadwalan Data (5X3)
Algoritma Jadwal M F I
CDS 2-4-5-1-3 51 180 56
RA 2-5-4-1-3 51 171 46
CDS MO 2-5-3-4-1 52 153 22
RA MO 2-5-3-4-1 52 153 22
CDS MOT 2-5-4-3-1 51 165 38
2-5-3-4-1 52 153 22
RA MOT 2-5-4-3-1 51 165 38
2-5-3-4-1 52 153 22
Jika menggunakan algoritma CDS dengan Mutiple Objective dan
RA dengan Mutiple Objective diperoleh jadwal yang sama, sehingga menghasilkan
makespan, total flow time dan total idle-time yang sama, yaitu 52, 153, dan 22..
Jika menggunakan algoritma CDS dengan Mutiple Objective Terboboti dan RA dengan
Mutiple Objective Terboboti juga diperoleh jadwal yang sama. Ada dua alternatif
jadwal yang diberikan. Satu jadwal sama dengan jadwal yang dihasilkan oleh
algoritma CDS dengan Mutiple Objective dan RA dengan Mutiple Objective, dan
jadwal yang lain mempunyai nilai makespan yang lebh kecil (51). Jika
dibandingkan dengan total flow time dan total idle-time yang nilainya lebih
besar (yaitu 165 dan 38), penurunan nilai makespan ini menjadi tidak
signifikan. Sehingga jadwal terbaik untuk kedua algoritma ini sama dengan
apabila tidak dilakukan pembobotan.
Data 5 job 5 mesin dari Ravindran (2005)
Dari data Ravindran (2005) seperti pada tabel 3, dan dengan
menggunakan keenam algoritma diperoleh hasil penjadwalan seperti pada tabel 4.
Tabel 3. Data (5X5) dari Ravindran (2005)
M1 M2 M3 M4 M5
J1 10 11 20 22 5
J2 3 21 19 13 12
J3 45 30 9 15 17
J4 1 40 32 24 28
J5 35 4 26 16 25
Algoritma CDS dan RA menghaslkan makespan yang sama dengan
jadwal dengan urutan yang berbeda. Jika dibandingkan jadwal yang dihasilkan
keduanya, RA menghasilkan jadwal yang relatif lebih baik daripada CDS. Meskipun
total flowtime-nya lebih besar (790) tetapi jadwal ini menghasilkan total idle
time yang jauh lebih kecil (88). Dengan menggunakan keenam algoritma, jadwal
terbaik dihasilkan dari algoritma CDS dengan Mutiple Objective dan dengan
Mutiple Objective Terboboti.
Tabel 4. Hasil penjadwalan Data (5X5)
Algoritma Jadwal M F I
CDS 4-2-5-3-1 184 787 176
RA 4-3-5-1-2 184 790 88
tujuan mempunyai nilai yang lebih kecil. Jika digunakan
bobot, menghasilkan yang lebih baik lagi, yaitu (93, 732, 126). Bobot yang
digunakan w1, w2, w3 berturut-turut (0, 0, 1)
Kesimpulan yang sama juga diperoleh jika algoritma RA
dibandingkan dengan algoritma RA dengan Mutiple Objective. Pada algoritma RA
dengan multiple objective terboboti, diperoleh nilai idle yang terkecil, yaitu
senilai 119 unit. Tetapi dua tujuan yang lain yaitu makespan dan total flow
time lebih besar dibandingkan dengan hasil algoritma CDS dengan Mutiple
Objective terboboti.
Tabel 8. Hasil Penjadwalan Data (10X10)
Algoritma Jadwal M F I
CDS 3-1-10-5-9-
6-8-2-7-4 95 765 154
RA 3-10-1-5-9-
8-6-2-7-4 97 766 154
CDS MO 3-1-5-10-9-
6-8-4-2-6 93 755 137
RA MO 3-1-10-5-8-
9-4-2-6-7 96 749 130
3-1-6-5-10- 93 732 126
9-2-4-7-8
3-1-5-10-9- 93 748 139
2-6-8-4-7
3-1-5-10-9- 93 751 127
CDS MOT 4-6-8-2-7
3-1-5-10-9- 93 755 137
6-8-4-2-7
3-1-5-10-4- 95 745 125
9-2-6-8-7
3-1-5-10-4- 96 750 126
9-6-8-2-7
3-1-10-5-8- 95 756 140
9-6-4-2-7
3-1-10-5-8- 95 755 144
9-6-2-4-7
3-1-10-5-8- 95 752 132
9-4-6-2-7
RA MOT 3-1-10-5-8-
9-4-2-6-7 96 749 130
3-1-10-5-8- 96 748 141
6-9-2-4-7
3-1-10-5-8- 96 749 137
6-9-4-2-7
3-1-4-10-5- 98 741 119
8-6-9-2-7
Data 10 job 8 mesin dari Sahu (2009)
Jika keenam algoritma diterapkan pada data 10 job 8 mesin
dari Sahu (2009) (tabel 9), diperoleh hasil seperti pada tabel 10.
Tabel 9. Data (10X8) dari Sahu (2009)
M1 M2 M3 M4 M5 M6 M7 M8
J1 6 5 1 7 9 3 4 2
J2 3 9 5 7 2 5 6 1
J3 8 1 6 4 3 9 5 9
J4 4 6 3 1 5 6 7 7
J5 9 8 2 9 2 5 9 6
J6 3 2 4 3 7 2 3 5
J7 5 9 4 2 4 8 6 6
J8 2 8 9 1 6 3 4 8
J9 1 4 6 2 5 4 3 9
J10 6 3 5 5 2 7 1 9
Tabel 10. Hasil Penjadwalan Data (10X8)
Algoritma Jadwal M F I
CDS 6-9-4-3-8-7-
5-10-1-2 90 658 77
RA 6-9-4-10-8-
3-7-5-2-1 92 665 93
CDS MO 6-9-4-3-8-7-
1-5-2-10 93 645 70
RA MO 6-9-10-4-8-
7-3-5-1-2 91 650 76
CDS
MOT 6-9-10-4-3-
8-7-1-5-2 89 648 68
6-9-4-3-8-7-
1-10-5-2 90 650 75
6-9-4-3-8-7-
5-10-1-2 90 658 77
6-9-4-3-8-7-
1-5-10-2 91 650 72
6-9-4-3-8-7-
1-5-2-10 93 645 70
RA MOT 6-9-4-10-8-
7-1-3-5-2 90 650 83
6-9-10-4-8-
7-3-1-5-2 91 649 78
6-9-10-4-8-
7-3-5-1-2 91 650 76
6-9-10-4-8-
7-1-3-5-2 92 648 79
6-9-10-4-8-
7-3-1-2-5 96 646 81
Dibandingkan dengan RA, algoritma CDS menghasilkan jadwal
yang lebih baik. Jika jadwal RA menghasilkan makespan, total flow time dan
total idle time berturut-turut (92, 665, 93), maka CDS menghasilkan makespan,
total
flow time dan total idle time (90, 658, 77). Dengan
menggunakan CDS multiple objective, terjadi peningkatan nilai makespan, tetapi
total flow time dan total idle timenya menurun, yaitu (93, 645, 70). Jika
digunakan CDS multiple objective terboboti, dengan bobot w1, w2, w3
berturut-turut (1, 0, 0), diperoleh jadwal yang lebih baik lagi, yaitu (89,
648, 68).
KESIMPULAN
Dari memodifikasi algpritma yang telah dikembangkan oleh
Rajendran (1995), dengan memberi bobot pada fungsi relativitasnya, dan mengubah
jadwal awal dengan menggunakan algoritma RA, serta melakukan perbandingan
dengan menggunakan data sekunder dapat diambil kesimpulan antara lain :
1. Dari
beberapa data yang digunakan, algoritma RA yang merupakan modifikasi dari
dengan menggabungkan keuntungan dari Palmer’s slope index dan CDS, tidak selalu
menghasilkan jadwal yang lebih baik algoritma CDS.
2. Dengan
Bobot yang ditambahkan pada fungsi relativitas, akan bisa menghasilkan jadwal
yang lebih baik lagi. Dalam penelitian ini ditunjukkan dengan semakin kecilnya
nilai makespan, total flow time, dan total idle time. Hal ini terjadi pada data
3 (10X5), data 4 (10X10), dan data 5
(10X8). Jika data yang
digunakan
berukuran kecil (jumlah job X banyaknya mesin), maka
penambahan bobot kurang mempengaruhi solusi yang diperoleh. Hal ini ditunjukan
pada data 1 (5X3) dan data 2 (5X5).
DAFTAR PUSTAKA
[1] Rajendran,
Chandrasekharan. Heuristic for Scheduling in Flowshop with Multiple Objectives,
European Journal of Operational Research, Vol.82, p 540-555, 1995.
[2] Sahu, Atul
Kumar, Efficient Heuristics for Scheduling Tasks on A Flow Shop Environment to
Optimize Makespan, Thesis, Departemen of Mechanical Engineering, National
Institute of Technology, Rourkela, 2009.
[3] Heizer,
Jay & Barry Render. Operations Management.. Upper Saddle River, New Jersey.
Pearson Education, Inc, 2008.
[4] Champbell,
H.G., Dudek, R.A, and Smith, M.L. A Heuristic Algorithm for the n-job,
m-machine sequencing problem,
Managemen Science 16, p. B630-B637, 1970.
[5] Hong, T.
P., T. T., Wang, S. L., Wang. A Fuzzy CDS-based Scheduling Algorithm for More
Than Two Machine Centers, Journal of Advanced Computational Intelligence,
Vol.5, No.4., 2001.
[6] Ravindran,
D., Haq, A. Noorul, Selvakuar, S.J., Sivaraman, R.. Flow Shop Scheduling With
Multiple Objective of Minimizing Makespan and Total Flow Time, Int J Adv Manuf
Technol, Vol. 25, p 1007-1012, 2005.
[7] Kattan,
Ibrahim, Mikolajczak, Boleslaw, Kattan, Khalid, Alqassar, Bassam. Minimizing
Cycle Time and Group Scheduling, Using Petri Nets A Study of Heuristic Methods,
Journal of Intelligent Manufacturing, Vol. 14, p 107-121, 2003.