PERAMALAN PENGUNJUNG PARIWISATA MENGGUNAKAN METODE
EXTREME LEARNING MACHINE BERBASIS RADIAL BASIS FUNCTION
(ELM-RBF)
*Bain Khusnul Khotimah, Mula’ab, **Iis Farihah
Program Studi Teknik Informatika, Fakultas Teknik
Universitas Trunojoyo
E-mail : *bainkk@gmail.com, **richa_lacity@yahoo.com
Abstrak
Sistem peramalan pariwisata merupakan proses untuk
memperkirakan jumlah pengunjung di masa datang sebagai pertimbangan dalam
memenuhi kebutuhan pelayanan yang tepat dan cepat. Metode peramalan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode Extreme Learning Machine Radial Basis
Function (ELM-RBF) yang merupakan salah satu metode pembelajaran baru dari
jaringan syaraf tiruan dengan keunggulan memiliki tingkat error yang kecil
berdasarkan nilai MSE (Mean Square Error) dan MAPE (Mean Absolute Percentage
Error). Penggabungan fungsi Radial Basis Function (RBF) digunakan untuk
memodifikasi pembobotan pada hidden layer menghasilkan proses iterasi yang
lebih cepat dan error yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan metode
Back Propagation dan ELM. Penelitian ini menggunakan 4 data ujicoba dengan
hasil pengujian untuk pariwisata Gondang menghasilkan nilai MSE = 0.15147 dan
nilai MAPE = 0.0059%, pariwisata WBl menghasilkan nilai MSE = 0.3134 dan MAPE =
0.4206%, pariwisata Mazola menghasilkan nilai MSE = 0.2266 dan MAPE = 0.0368%
sedangkan Sunan Drajad nilai MSE = 0.2998 dan MAPE = 0.1475%.
Kata kunci : Peramalan, Extreme Learning Machine (ELM),
Radial Basis Function (RBF)
Abstract
Forecasting tourism system is the process to estimate the
number of visitors in the future for consideration in meeting the needs of
precise and fast service. Forecasting methods used in this research is a method
of Extreme Learning Machine Radial Basis Function (ELM-RBF), which is one of
the new learning method of neural networks with the advantages of having a
small error rate based on the value of MSE (Mean Square Error) and MAPE (Mean
Absolute Percentage Error). Merging functions of Radial Basis Function (RBF) is
used to modify the weighting of the hidden layer iteration process yields
faster and smaller error than using the Back Propagation and ELM. This study
used four experimental data with the results of testing for produce Gondang
tourism MSE = 0.15147, and the value of MAPE = 0.0059%, WBL tourism generating
MSE = 0.3134 and MAPE = 0.4206%, Mazola generate tourism MSE = 0.2266 and MAPE
= 0.0368% while Sunan Drajad MSE = 0.2998 and MAPE = 0.1475%.
Keyword: Forecasting, Extreme Learning Machine (ELM), Radial
Bases Function (RBF)
PENDAHULUAN
Mengamati pertumbuhan kunjungan wisatawan ke beberapa daerah
di Jawa Timur merupakan suatu hal yang menarik. Lamongan adalah kota yang
sangat kaya akan keindahan alam dan beraneka ragam budaya. Lamongan memiliki
potensi wisata yang dapat
dimanfaatkan semaksimal mungkin dan berpotensi sebagai kota
tujuan wisata atau daerah tujuan wisata. Beberapa objek dan daya tarik wisata
yang dapat dikunjungi dan dinikmati para wisatawan di daerah Lamongan
antaralain : Wisata Bahari Lamongan(WBL), Maharani Zoo Lamongan(Mazola), Sunan
Drajad dan Waduk Gondang. Obyek wisata
SI-125
dikawasan tersebut sangat diminati pengunjung, sehingga
sulit memperkirakan jumlah pengunjung karena kapasitas obyek wisata juga
terbatas dan kurangnya petugas pengelola yang mengakibatkan antrian panjang
[1].
Peramalan dalam pariwisata sendiri merupakan proses untuk
memperkirakan jumlah pengunjung di masa datang meliputi: kebutuhan pelayanan
yang tepat dan cepat dalam mendapatkan jumlah pengunjung yang banyak dan demi
memenuhi keinginan pengunjung. Peramalan data pengunjung salah satu alternatif
perbaikan sistem pariwisata di Lamongan untuk memprediksi jumlah pengunjung
sebagai bekal memperbaiki pelayanan terhadap pengunjung di masa yang akan
datang [2].
Penelitian ini menggunakan metode peramalan yang digunakan
adalah metode Extreme Learning Machine (ELM) berbasis Radial Basis Function
(RBF). Algoritma Extreme Learning Machine (ELM) mempunyai kelebihan dalam
learning speed, serta mempunyai tingkat akurasi yang lebih baik dibandingkan
dengan metode lainnya sehingga dengan menerapkan metode ini pada demand
forecasting diharapkan mampu menghasilkan ramalan yang lebih efektif [3].
Sedangkan penggunaaan metode Radial Basis Function (RBF) di dalam metode
Extreme Learning Function (ELM) mudah mencapai kinerja generalisasi baik pada
kecepatan belajar yang sangat cepat Algoritma Extreme Learning Function (ELM)
untuk jaringan Radial Basis Function (RBF) atau disebur ELM-RBF dapat
menyelesaikan belajar pada kecepatan yang sangat cepat dan menghasilkan kinerja
generalisasi sangat dekat dengan Extreme Learning Function (ELM) [4].
SISTEM PERAMALAN
Peramalan adalah proses untuk memperkirakan berapa kebutuhan
di masa datang. Salah satu teknik peramalan adalah analisis serial waktu dan
proyeksi. Metode serial waktu didasari oleh asumsi bahwa kejadian-kejadian masa
mendatang akan mengikuti jalur yang ada dalam penggunaan data historis untuk
memprediksi masa depan. Tujuan peramalan dilihat dengan waktu [5]:
a. Jangka pendek (Short Term)
Menentukan kuantitas dan waktu dari item dijadikan produksi.
Biasanya bersifat
harian ataupun mingguan dan ditentukan oleh Low Management.
b. Jangka
Menengah (Medium Term) Menentukan kuantitas dan waktu dari kapasitas produksi.
Biasanya bersifat bulanan ataupun kuartal dan ditentukan oleh Middle
Management.
c. Jangka
Panjang (Long Term)
Merencanakan kuantitas dan waktu dari fasilitas produksi.
Biasanya bersifat tahunan, 5 tahun, 10 tahun, ataupun 20 tahun dan ditentukan
oleh Top Management.
Peramalan Deret Waktu
Time series adalah serangkaian nilai-nilai variabel yang
disusun berdasarkan waktu. Analisis time series mempelajari pola
gerakan¬gerakan nilai-nilai variabel pada satu interval waktu (misal minggu,
bulan, dan tahun) yang teratur.
Peramalan pendugaan masa depan dilakukan berdasarkan nilai
masa lalu. Tujuan metode peramalan deret berkala (time series) seperti ini
adalah menemukan pola dalam deret historis dan mengekstrapolasikan pola
tersebut kemasa depan. Pola data dapat dibedakan menjadi empat jenis siklis dan
trend [6].
1. Pola
Harizontal (H)
Terjadi apabila nilai data fluktuasi disekitar nilai
rata-rata yang konstan. Suatu calon mahasiswa baru yang tidak meningkat dan
menurun selama waktu tertentu, termasuk kedalam pola ini
2. Pola
Musiman
Terjadi apabila suatu deret dipengaruhi oleh musiman (misal
kuartal tahun tertentu).
3. Pola
Siklis
Terjadi apabila datanya dipengaruhi oleh fluktuasi ekonomi
jangka panjang seperti yang behubungan siklis bisnis
4. Pola
Random
Permintaan suatu produk dapat mengikuti pola bervariasi
secara acak karena faktor¬faktor adanya bencana alam, bankrutnya perusahaan
pesaing, promosi khusus dan kejadian-kejadian lainnya yang tidak mempunyai pola
tertentu. Variasi acak ini diperlukan dalam rangka menentukan
persediaan pengamanan untuk
mengantisipasi kekurangan permintaan.
5. Pola
Trend
Terjadi apabila terdapat kenaikan atau penurunan sekuler
jangka panjang dalam data.
2.2 Akurasi Peramalan
Ukuran akurasi hasil peramalan yang merupakan ukuran
kesalahan peramalan merupakan ukuran tentang tingkat perbedaan antara hasil
peramalan dengan permintaan yang sebenarnya terjadi. Ukuran yang biasa
digunakan, yaitu [6]:
1. Mean Absolute Percentage Error (MAPE) Pendekatan MAPE
digunakan untuk menilai prestasi jaringan yang dilatih karena MAPE mengenal
secara pasti signifikasi hubungan diantara data ramalan dengan data aktual
melalui persentase dari data aktual serta indikator positif atau negatif pada
galat (error) diabaikan.
MAPE =(100~At−Ft
n At
(1)
2. Mean Square Error (MSE)
MSE dihitung dengan menjumlahkan kuadrat semua kesalahan
peramalan pada setiap periode dan membaginya dengan jumlah periode peramalan.
Secara matematis, MSE dirumuskan sebagai berikut [6]:
MSE = Y (At − Ft)2 (2)
n
2.3 Fungsi Autokorelasi
Salah satu bentuk analisis dalam teori Statistika adalah
Analisis Data deret Waktu, yaitu analisis terhadap data yang merupakan fungsi
atas waktu atau tempat. Analisis data deret waktu merupakan analisis khusus
dari analisis regresi, sebab dalam data deret waktu terlibat suatu besaran yang
dinamakan Autokorelasi. Keberadaan autokorelasi bisa merupakan autokorelasi
periodik, yaitu autokorelasi dengan nilai periodesitasnya lebih dari satu, dan
autokorelasi seperti ini banyak terdapat pada data deret waktu yang memiliki
komponen musiman-periodik. Perumusan autokorelasi sama dengan perumusan
korelasi antar dua variabel.
Dalam metode Statistika, jika dimiliki sampel atas data
bivariat (X , Y). Dalam hal ini data yang di proses berdasarkan waktunya
akan diproses dengan rumus autokorelasi sehingga didapatkan
time lags atau waktu yang bersignifikan dengan waktu yang diramalkan. Kemudian
data tersebut pada waktu yang bersignifikan tersebut akan menjadi data masukan
pada proses pelatihan jaringan syaraf tiruan. Rumus untuk mencari fungsi
autokorelasi:
n En (Yt − Y t )(Yt−k − Y t )J
n ()2
Yt −-Yt
t=1
Keterangan:
Yt = data baru atau nilai aktual pada periode t
rk = nilai signifikan
EXTREME LEARNING MACHINE
Extreme Learning Machine merupakan metode pembelajaran baru
dari jaringan syaraf tiruan. Metode ini pertama kali diperkenalkan oleh Huang
(2004). ELM merupakan jaringan syaraf tiruan feedforward dengan single hidden
layer atau biasa disebut dengan Single Hidden Layer Feedforward neural Networks
(SLFNs) Metode pembelajaran ELM dibuat untuk mengatasi kelemahan-kelemahan dari
jaringan syaraf tiruan feedforward terutama dalam hal learning speed [3][5].
Output layer (predict forecast)
Hidden layer
Input layer (independent var)
Gambar 1. Arsitektur ELM
H diatas adalah hidden layer output matrix g (wi • xi+b1 ) menunjukkan
output dari hidden neuron yang berhubungan dengan input i x . β merupakan
matrix dari output weight dan T matrix dari target atau output . Pada ELM input
weight dan hidden bias ditentukan secara acak, maka output weight yang
berhubungan dengan hidden layer
Pada ELM parameter-parameter seperti input weight dan hidden
bias dipilih secara random, sehingga ELM memiliki learning speed yang cepat dan
mampu mengshasilkan
good generalization performance. Metode ELM mempunyai model
matematis yang berbeda dari jaringan syaraf tiruan feedforward. Model matematis
dari ELM lebih sederhana dan efektif. Berikut model matrematis dari ELM. Untuk
N jumlah sample yang berbeda (xi, ti)
aktifasi yang berupa fungsi basis radial. Fungsi basis
radial ini diasosiasikan oleh lebar dan posisi center dari fungsi basis
tersebut. Struktur dasar jaringan RBF [4][6].
Fungsi basis pada jaringan RBF identik dengan dengan fungsi
gaussian yang diformulasikan sebagai berikut :
Standart SLFNs dengan jumlah hidden nodes sebanyak N dan
activation function g ( x ) dapat digambarkan secara matematis sebagai berikut
:
(5)
(Wr.Xj+bi)= oj (6)
dimana :
J = 1,2,..., N
wi = (wi1 ,wi2 ,..., win )T = merupakan vektor dari weight
yang menghubungkan i th hidden nodes dan input nodes.
βi = (βi1 , βi2 ,..., βin )T = merupakan weight vector yang
menghubungkan i th hidden dan output nodes.
bi = threshold dari ke-i pada hidden nodes. w i x j = hasil
inner produk dari w i dan x j
RADIAL BASIS FUNCTION
RBF (φ) merupakan fungsi dimana keluarannya simetris
terhadap center c tertentu atau dinyatakan sebagai φc = φ ||x - c||, dimana ||
. || merupakan vektor normal. Jaringan syaraf yang dibentuk dengan menggunakan
fungsi basis berupa fungsi basis radial dinamakan Jaringan Syaraf RBF. Jaringan
RBF terdiri atas 3 layer yaitu layer input, hidden layer (unit tersembunyi) dan
layer output. Masing– masing unit tersembunyi merupakan fungsi
dimana:
φj =Keluaran fungsi basis ke – j data x
x = Masukan fungsi basis cj = Center fungsi gausian ke - j
σj = Lebar fungsi gausian ke – j
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data input yang digunakan dalam penelitian ini adalah data
pengunjung pariwisata di Kab.Lamongan. Dalam data yang akan di analisa memiliki
beberapa data pariwisata anatara tahun 2006-2010 dengan nama wisata sebagai
berikut :
Tabel 1. Data Wisata Lamongan
No Data Wisata
Lamongan
1 Wisata
Bahari Lamongan (WBL)
2 Maharani
Zoo Lamongan (Mazola)
3 Sunan
Drajad
4 Waduk Gondang
Preprosessig data dilakukan dengan menggunakan proses
autokorelasi dan normalisasi sehingga menjadi data dengan range 0-1.
Autokorelasi menghasilkan nilai kedekatan dengan lags maksimal 1, setelah itu
data dimasukkan sebagai data latih dalam peramalan meggunakan ELM berbasis RBF
dengan tampilan form sebagai berikut:
Gambar 1. Interface ELM berbasis RBF Tabel 2. Hasil Uji Coba
dengan Perbandingan penggunaan Metode
Data
BP (%)
MSE MAPE ELM (%)
MSE MAPE ELM-RBF(%)
MSE MAPE
WBL 4,2871 1,2635 2,3031 1,5782 0.17103 0.0053
Mazola 7,2540 1,5316 4,1044 0,8377 0.3134 0.0420
Sunan Drajad 1,1330 0,9622 1,1603 0,6695 0.2266 0.0368
Waduk Gondang 2,6536 1,5613 1,5602 0,5051 0.2998 0.1475
Tabel 3. Hasil Uji Coba berdasarkan perhitungan waktu
Data
BP (detik) ELM
(detik) ELM-RBF (detik)
(Epoch) 1000 2000 1000 2000 1000 2000
WBL 720 1200 630 1118 480 902
Mazola 680 1109 590 1001 510 989
Sunan Drajad 780 1204 750 1084 621 994
Waduk Gondang 800 1590 720 1390 689 1320
Data Wisata lamongan terdiri dari rekapitulasi data bulanan
selama 5 tahun antara tahun 2006-2010 yang berjumlah 60 tupple. Uji coba akan
membagi 60 data tupple yaitu data training sebanyak 48, data pengujian sebanyak
12. Selanjutnya memasukkan beberapa nilai parameter yaitu : hidden layer yang
digunakan 8, nilai epoch 1000 dan learning rate sebesar 0.9. Hasil ujicoba pada
Tabel 2. menunjukkan bahwa metode ELM¬RBF menghasilkan error yang lebih kecil
dibandingkan dengan menggunakan metode Back Propagation (BP) dan ELM. Hasil uji
coba menggunakan ELM-RBF pada data WBL menghasilkan nilai
MSE sebesar 0.17103 dan MAPE 0.0053%, pada data Mazola menghasilkan nilai MSE
sebesar 0.3134 dan MAPE 0.0420%, pada data wisata Gunung Drajat Menghasilkan
nilai MSE sebesar 0.2266 dan MAPE 0.0368% dan terakhir data wisata Waduk
Gondang menghasilkan nilai MSE sebesar 0.2998 dan MAPE 0.1475%. Hasil uji coba
mengenai analisa penggunaan waktu pelatihan ditunjukkan pada Tabel 3.
menunjukkan hasil penggunakan metode
ELM-RBF lebih cepat dibandingkan dengan metode BP dan ELM.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil penulis dari pembuatan
perangkat lunak ini adalah:
1. Sistem
peramalan pengunjung pariwisata dengan menggunakan metode Extreme Learning
Machine (ELM) berbasis Radial Basis Function (RBF) meghasilkan proses iterasi
yang lebih cepat dan error yang lebih kecil dibandingkan dengan menggunakan
metode Back Propagation dan ELM.
2. Berdasarkan
uji coba pariwisata WBL menghasilkan nilai MSE sebesar 0.17103 dan MAPE
0.0053%, pariwisata Mazola menghasilkan nilai MSE sebesar 0.3134 dan MAPE
0.0420%, pariwisata Sunan Drajad menghasilkan nilai MSE sebesar 0.2266% dan
MAPE 0.0368%, dan
pariwisata Waduk Gondang
menghasilkan nilai MSE sebesar 0.2998% dan MAPE 0.1475%.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Buku
Laporan Tahunan Wisata di Lamongan, 2011
[2] Wutsqa,
Dhoriva Urwatul, Suhartono. 2007. Peramalan Deret Waktu Multivariat Seasonal
pada Data Pariwisata dengan Model Var-Gstar. Jurusan Matematika, Universitas
Negeri
Yogyakarta, Yogyakarta, Jurusan Statistika, Institut
Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Indonesia.
[3] Yulianarta,
Handry. 2011. Sistem
Peramalan Jumlah Pengguna Provider XL menggunakan Metode
Extreme Learning. Teknik Informatika-Universitas Trunojoyo Madura, Indonesia.
[4] Huang,
Guang-Bin. Siew, Chee-Kheong. 2004. Extreme Learning Machine : RBF Network
Case. School of electrical and
electronic engineering, Nanyang
Technological University, Nanyang Avenue, Singapore.
[5] Agustina
Irwin, Dwi. 2009. Penerapan Metode Extreme Learning Machine untuk
Peramalan Permintaan. Sistem
Informasi-ITS Surabaya, Indonesia.
[6] Hariyanto,
Wahyudi, Setiawan, Iwan. 2007. Aplikasi Jaringan Syaraf Tiruan RBF pada Sistem Kontrol
Valve untuk pengendalian tinggi muka air. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas
Teknik,
Universitas Diponegoro,Semarang,
Indonesia.
[7] Zhang, G.,
Pattuwo, B.E., Hu, M.Y. 1997. Forecasting with Artificial Neural Networks : The
State of the Art. Elsevier International Journal of Forecasting 14 (1998)
35-62.
[8] Kusumadewi,
Sri. 2003. Artificial Intelligence (Teknik dan Aplikasinya). Yogyakarta : Graha
Ilmu.
[9] Sun, Z.L.,
Choi, T.M., Au, K.F., dan Yu, Y. 2008. Sales Forecasting using Extreme Learning
Machine with Application in Fashion Retailing. Elsevier Decision Support
Systems 46 (2008) 411-419.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar