PENGEMBANGAN PROTOTIPE PENGENALAN AKTIFITAS FISIK DENGAN
SENSOR ACCELEROMETER BERBASIS INTEGRASI DEMPSTER-SHAFER DAN K-NEAREST
NEIGHBOURS
Waskitho Wibisono
Jurusan Teknik Informatika
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya
E-mail: waswib@if.its.ac.id
Abstrak
Sistem yang context-aware adalah sistem yang dirancang untuk
mampu beradaptasi dengan lingkungannya, dimana adaptasi dari system ini umumnya
dilakukan dengan informasi context dari penggunanya. Aktivitas fisik yang
dilakukan oleh user, adalah salah satu bentuk context yang penting dan umum
digunakan untuk membangun sistem context-aware tersebut. Dalam paper ini,
prototipe aplikasi untuk identifikasi aktifitas fisik user berbasis sensor
accelerometer tunggal dikembangkan menggunakan penggabungan metode
Dempster-Shafer dan K-Nearest Neighbour (KNN). Ujicoba dilakukan dengan
menggunakan data yang didapat dengan dari sebuah sensor 3-Axis Accelerometer
pada SunSPOT device, yang dipasang pada paha pengguna. Ujicoba pengenalan
aktivitas dilakukan untuk tiga aktifitas fisik yang umum dilakukan user. Hasil
ujicoba menunjukkan akurasi pengenalan yang tinggi terhadap tiga aktivitas
fisik user, dari data yang didapat dari sensor accelerometer tersebut.
Kata kunci: Sistem Context-Aware, Pengenalan Aktivitas,
Dempster-Shafer, Accelerometer.
Abstract
Context-aware systems are systems that capable of adapting
to their environments and provide relevant information and/or services with
minimum user intervention. Commonly, a context-aware system will adapt based on
context of the its user. Physical user activities usually become the most
important context used for system adaptation. In this paper, a prototype of
application used to identify physical user activity based on accelerometer data
is proposed. The prototype is developed based on integration of Dempster-Shafer
theory and K-Nearest Neighbor (KNN). Experiments were conducted using data
captured using 3-Axis Accelerometer of a SunSPOT device, placed at user’s
thigh. The activity recognition testing was performed, for three different
common physical activities of a user. The result of experiments shows high accuracy
for the physical user activities, using data from the accelerometer.
Keywords: Context-Aware System, Activity Recognition,
Dempster-Shafer, Accelerometer.
PENDAHULUAN
Perkembangan dan kemajuan dari komputasi bergerak dan
teknologi perangkat bergerak telah memunculkan ide untuk membangun sistem yang
context-aware [1, 2]. Sistem ini dirancang untuk mampu beradaptasi dengan
lingkungannya, serta memberikan informasi atau layanan yang relevan berbasis
context tanpa memerlukan intervensi user secara eksplisit [3, 4].
Dey et al. [4] memberikan definisi yang populer tentang
context sebagai semua informasi yang dapat digunakan untuk mengenali aktivitas
dari pengguna. Sebuah sistem yang tanggap terhadap perubahan context dari
penggunanya, diharapkan agar dapat meningkatkan usability dari sistem tersebut
terhadap kebutuhan user [5].
Aktivitas fisik yang sedang dilakukan user adalah salah satu
bentuk context yang penting dan umum digunakan untuk membangun context-aware
system. Untuk mendeteksi
aktivitas fisik tersebut, sensor yang umum digunakan adalah
accelerometer [6]. Sensor ini adalah salah satu sensor yang murah yang sering
dipakai untuk mengenali aktivitas dari pengguna. Data yang dihasilkan dengan
oleh sensor ini umumnya dapat dipakai untuk mengukur pergerakan dan orientasi
dari sebuah alat relatif terhadap gaya gravitasi.
Dalam paper ini, akan dipaparkan metode untuk mengenali
aktifitas user berbasis data dari sensor accelerometer dengen menggunakan teori
Dempster-Shafer (DS) yang diintegrasikan dengan metode klasfikasi K-Neirest
Neighbor (KNN) [7, 8]. Teori DS umumnya dipakai dalam permasalahan data fusion
untuk pengenalan situasi karena memiliki memberikan banyak kelebihan yaitu [9]:
• Memungkinkan
representasi dari imprecision dan uncertainty dengen mengenalkan konsep tentang
belief dan plausibility [10];
• Memberikan
kemampuan untuk menggunakan partial knowledge dari preposisi dengan kemampuan
untuk merepresentasikan konjungsi dari beberapa hipotesis tentang kasus yang
akan dikenali, selain juga untuk hipotesis tunggal [11, 12].
• Memberikan
metode yang effektif untuk mengkombinasikan informasi dari berbagai sumber data
yang berbeda-beda [13].
Selain keunggulan seperti yang ditulis diatas, problem dasar
dalam mengaplikasikan teori DS untuk pengenalan aktifitas adalah perlu
dibangunnya metode yang sesuai untuk berfungsi sebagai mass function [14].
Fungsi ini menghasilkan nilai mass yang merepresentasikan derajat dukungan
kepada sebuah hipotesis apabila sebuah evidence didapatkan.
Dalam paper ini kami mengadopsi metode yang di ajukan
pertama kali oleh Denoux dan kemudian digunakan oleh Yahdani et.al [7, 8] untuk
mendapatkan nilai mass. Penjelasan tentang teori DS dan integrasinya dengan
metode KNN dijelaskan dalam sub bagian berikut.
TEORI DEMPSTER-SHAFER (DS)
Teori Dempster-Shafer (DS) dikenalkan oleh Glen Shafer [15].
Dalam teori ini, sebuah
himpunan hipotesis (0 = {hl,.., hn} dari n kejadian yang
akan dikenali dan bersifat mutually exclusive dan disebut sebagai frame of
discernment (FOD)[15].
Jika 20 merupakan himpunan power set dari 0, maka mass
assignment (yang juga dikenal sebagai mass function m didefinisikan sebagai
fungsi m: 20 [0,1] dimana m(0) =
0 dan Zhj5;0m(h1) = 1. Nilai mass dari
sebuah hypothesis ( hj), yakni m(hj), merepresentasikan
derajat dukungan proposisi hi. Nilai dari mass yang dialokasikan untuk m(0),
yaitu mass yang dialokasikan untuk frame of discernment, merepresentasikan
derajat ketidaktahuan atau uncertainty akan hipotesis yang tepat.
Membangun fungsi untuk mendapatkan nilai mass dari terhadap
kemungkina-kemungkinan hipotesis, adalah sebuah tahapan yang sangat krusial
untuk dilakukan untuk mengadopsi teori DS. Namun demikian, hingga saat ini hal
ini masih merukan isu utama dalam penerapan teori DS dalam memecahkan
problem-problem klasifikasi [14, 16].
Untuk mengatasi masalah tersebut, dalam paper ini, penulis
mengadopsi metode yang di ajukan pertama kali [7] yang kemudian digunakan di
[8]. Detail dari metode ini kami diskusikan dalam bagian berikut ini.
Mass Function berbasis Integrasi KNN dan Dempster-Shafer
(KNN-DS)
Metode klasifikasi berbasis KNN adalah metode yang umum
digunakan dalam permasalah klasifikasi. Namun demikian, kelemahan yang umum
dari metode ini adalah penggunaan mekanisme voting mayoritas. Metode ini tidak
mengakomodir perbedaan jarak dari elemen-elemen data KNN, yang didapatkan dari
penghitungan jarak, dari sebuah input data yang akan dikenali, terhadap
data-data yan ada dalam training dataset. Namun pada kenyataannya, jarak dari
elemen-elemen KNN yang terpilih sering kali berbeda-beda [7, 8] sehingga metode
berbasis voting mayoritas kurang efektif.
Sebagai contoh, misalnya saja, e= {si, ..., sn} adalah
himpunan dari aktifitas yang akan dideteksi. Untuk membangun mass function
berbasis KNN-DS, sebuah dataset pelatihan harus dipersiapkan untuk semua
aktifitas yang dinyatakan dalam 0. Setiap data
dalam dataset tersebut haruslah memiliki label s̅ ∈
1, . . n} yang merepresentasikan
aktifitas yang terkait.
Ide dasar dari KNN adalah untuk mengklasifikasikan input
data berdasarkan dari himpunan dari tetangga terdekat yang didapatkan dari
dataset training. Sebagai contoh misalnya, sebuah himpunan nilai mass ingin
didapatkan dari sebuah input context data ¬i(), kemudian sebuah himpunan
tetangga terdekat yang didapatkan dan dinyatakan sebagai ®¯(t). Elemen-elemen
dari KNN yang dipilih tersebut dapat dihitung dengan menggunakan perhitungan
dengan rumus jarak tertentu (misalnya euclidian), antara input context data dan
dataset training.
Secara umum, jumlah tetangga diatur sebelum proses
komputasi. Sebagai contoh, misalnya ¥ merepresentasikan jumlah dari tetangga
terdekat. Untuk setiap ¬i(±) ∈ ®¯(), dimana ± = 1,.., ¥ dimana labelnya adalah sebagai 2 adalah
sebuah evidence yang meningkatkan tingkat kepercayaan (belief) bahwa input
context ¬i(), tersebut termasuk kedalam aktifitas §3 ∈ ¤. Namun demikian, informasi ini tidak menjamin secara mutlak
akan kebenaran dugaan tersebut. Kondisi ini
dapat direpresentasikan dengan
mengalokasikan sebagian dari nilai belief kepada §3 ∈
¤, sedangkan sisanya dapat dialokasikan ke
FOD yaitu ¤ = §r,
... , §n}.
Dalam metode ini, nilai mass dihitung dengan fungsi yang
bersifat monotonically decreasing terhadap jarak antara context data sebagai
input dan elemen dari KNN yang
didapatkan, ¬i(x) ∈ Φµ(t) dimana x =
1,.., K. Alasan yang melandasi konsep diatas adalah :
semakin besar jarak antara input data dan elemen dari K-tetangga terdekat yanga
didapatkan akan mengindikasikan belief yang semakin berkurang bahwa input data
tersebut adalah aktifitas yang terkait dengan label yang diasosiakan oleh
elemen data KNN yang terkait[7]. Kondisi ini dapat direpresentasikan oleh mass
function yang memenuhi ketentuan sebagai berikut [7, 8].
i#f§3m, , ±% = •¸±1tºd»,1/4 (1)
l(¤, , ±) = 1 (2)
− i#f§3m,
, ±%
l(1/2, , ±) = 0 ∀1/2 (3)
∈ ¤\ À¤,f§3mÁ
Dimana ot, adalah jarak antara input context data dan ¬i()
dengan ¬i(±) ∈ ®¯(),
dan Ã>0 adalah koefisien normalisasi.
Koefisien • pada 0 < • < 1, yang mengindikasikan bahwa meskipun jarak
yang didapatkan adalah nol, hal ini belum bisa menjamin secara 100% bahwa input
data tersebut ¬i() memiliki aktivitas yang sama dengan yang di dataset
training. Dalam prakteknya, nilai à dan • dapat ditentukan secara heuritsik
seperti yang ditunjukkan oleh Deneoux [7].
Semisal kita mendapatkan ®¯,Å() sebagai himpunan KNN yang
termasuk kedalam aktifitas §3, kombinasi dari nilai mass yang didapatkan dari
®¯,Å() dapat dihitung sebagai berikut:
i,3#f§3m,% =
1 − Æ#1 −
•¸±1tºd»,1/4% (4)
ÇÈ(Â)ÉÊË,Ì(t)
i,3(¤, ) = Æ1 − •¸±1tºd»,1/4
ÇÈ(Â)
ÉÊË,Ì(t) (5)
Jika ®¯,Å() = ∅, maka keseluruhan nilai mass
dialokasikan kepada FOD, yaitu m¯#¤l, % = 1, dan i,3#f§3m, % =
0. Pada langkah selanjutnya, nilai-nilai mass untuk keseluruhan aktifitas yang
telah didapatkan dikombinasikan untuk mendapatkan nilai-nilai mass gabungan.
Dengan › sebagai jumlah dari aktifitas yang akan
dideteksi, koefisien normalisasi G dihitung seperti dalam persamaan berikut.
n
Ï = s ~,3
~ #f§3m, % Æ ~,~
~ #Θ, %
3+r rÐ3
n
+ Æ ~,3
~ (¤l, ) (6)
3+r
Kemudian nilai mass secara untuk setiap aktifitas secara
keseluruhan dapat dihitung menggunakan persamaan berikut:
l~#f§3m, % = (7)
1riL,q ~([Sq},t) ∏ ~~,~
~~~ ~ (Θ,t)
G
Nilai mass yang dialokasikan kepada FOD (0),
merepresentasikan derajat ketidak tahuan (ignorance) dalam mengenali aktifitas.
Kondisi yang merepresentasikan total ignorance terjadi bila, mi(Θ, t) = 1.
Nilai tersebut didapatkan dengan persamaan sebagai berikut :
∏n ml q (e 1, t)
ml (el, t) =
~ (8)
Contoh Perhitungan
Misalnya dalam sebuah proses pengenalan aktivitas fisik
seorang user dari sebuat input context cl(t) dan 5 nearest neighbours (NN)
Φi(t) = {ci(x)|x = 1, .. ,5 }, dengan masing masing jaraknya (dt,~) seperti
ditunjukkan dalam Tabel 1. Tabel tersebut juga menunjukkan aktivitas yang
terkait dari setiap NN yang diperoleh dimana sl=Berdiri, s2=Duduk dan
s3=Berjalan.
Untuk menghitung mass assignment, koefisient γ didapatkan
dengan menggunakan metode heuristik[7] dimana rata-rata dari
jarak dari NN yang
didapatkan (γ =
~l
Q
∑~ ~~,~
l ~ ) dan koefisien α di set pada nilai 0.95. Dalam tabel
berikut, jarak dari tiap-tiap tetangga, dan perhitungan awal nilai mass dengan
k = 5 and y = (1/0.455356693) ditunjukkan.
Tabel 1. Contoh Jarak pada KNN dan Kalkulasi Awal Mass
dt,x Sq aexp-ydt,~ 1 - aexp-ydt,~
0.450088321
0.455088324
0.457010096
0.457298363
0.457298363 sl
S3
sl
sl
s3 0.353552417
0.349691503
0.348218786
0.347998414
0.347998414 0.646447583
0.650308497
0.651781214
0.652001586
0.652001586
Perhitungan nilai awal mass untuk aktivitas ”BERDIRI”,
dilakukan dengan menggunakan x = 1,3,4 sebagai berikut
ml,l(Θ) =0.646447583×0.651781214×
0.652001586=0.274715907
ml,l({sl}) = 1 - ml,l(Θ) = 0.725284093
Perhitungan untuk nilai mass aktivitas ”BERJALAN” didapat
dari x = 2,5 sebagai berikut:
ml,3(Θ) = (0.650308497 x
0.652001586) = 0.424002172
m1,3({s3}) = 1- m1,3(Θ) = 0.575997828
Karena 0l,2 = 0 , dimana tidak ada tetangga terdekat
(nearest neighbours) cl(t) ∈
0l(t) yang berkorespondensi dengan situasi ”DUDUK” (s2) maka
kita dapat memberikan nilai ml,2({Θ}) = 1 dan ml,2({S2}) = 0.
Dengan nilai-nilai tersebut kita dapat mendapatkan angka
koefisien G (Eq. 6) sebagai faktor normalisasi dengan perhitungan sebagai
berikut:
G = #(0.725284093 x 0.424002172 x 1) + (0.5759978282) x (
0.274715907 x 1) + (0 x 0.424002172 x 0.274715907) + (0.424002172 x 0.274715907
x 1))) = 0.582237937
Nilai mass akhir yang merupakan kombinasi dari nilai awal
mass yang didapat dari perhitungan sebelumnya didapatkan sebagai berikut (Eq.
7)
m1(s1) = (0.725284093 x
0.424002172 x 1)/
0.582237937 =0.528172438
m1(s3) = (0.575997828
x 0.274715907
x 1) / 0.582237937
= 0.271771651
m1(Θ) =(0.274715907×0.424002172)/
0.582237937=0.200055911 M1(S2) = 0
Dari perhitungan diatas, didapatkan nilai-nilai mass untuk
aktivitas BERDIRI= 0.528172438, BERJALAN=0.271771651 dan DUDUK=0 dan nilai mass
untuk FOD(Θ) yang merepresentasikan ketidaktahuan (ignorance) adalah
0.200055911.
UJICOBA PENGENALAN AKTIVITAS DENGAN DATA SENSOR
ACCELEROMETER
Ujicoba dengan data riil dari sensor accelerometer dilakukan
dengan memasang perangkat SunSPOT [6] yang didalamnya terdapat sensor
accelerometer seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 berikut. Orientasi dari
setiap sumbu dalam sensor tersebut seperti yang ditunjukkan dalam gambar
tersebu dimana simbol (+) pada setiap sumbu mengindikasikan bahwa ketika
akselerasi bertambah pada arah sumbu tersebut [6].
Gambar 1 Sumbu X,Y and Z dari Sensor
Accelerometer pada Sun SPOT device
Dalam ujicoba yang dilakukan, SunSPOT diletakkan pada lokasi
paha bawah dari user yang terlibat dalam ujicoba. Dalam ujicoba tersebut, tiga
aktivitas fisik yang umum dilakukan yaitu : ”BERJALAN”, ”BERDIRI” dan ”DUDUK”
akan dikenali..
Ujicoba dilakukan dengan data menggunakan data yang diambil
dari 3-axis accelerometer sensor yang terdapat pada SunSPOT device (lihat
Gambar 1).
Dalam ujicoba yang kami lakukan, SunSPOT device diletakkan
pada paha kanan dari dua orang user seperti dalam Gambar 4 di halaman 6.
Pengambilan Dataset Training
Dalam ujicoba, dilakukan perekaman data untuk tiga aktivitas
fisik yaitu, berjalan, berdiri dan duduk. Untuk menghasilkan context data,
dilakukan sampling terhadap sensor 3-axis accelerometer pada frekuensi 40Hz,
dengan panjang window sampling sebanyak 128 elemen data. Dalam pengaturan
seperti ini, setiap window sampling merepresentasikan data
selama 3.2 detik masa observasi. Mean dari data-data yang didapatkan dari
setiap sumbu accelerometer digunakan sebagai context data.
Ploting dari data accelerometer pada ketiga sumbu untuk
ketiga aktifitas fisik yang digunakan dalam ujicoba dapat dilihat pada
gambar-gambar berikut.
Gambar 2 Visualisasi Data 3-Axis Accelerometer Sensor ,
Untuk Tiga Aktifitas Fisik Umum Seorang User
Implementasi
Implementasi yang dibuat terdiri dari dua komponen utama.
Dalam komponen pertama
adalah implementasi untuk membuat komponen akuisi data
sedang komponen kedua adalah modul untuk pengenalan aktivitas.
Dalam paper ini, modul akuisisi data dikembangkan dengan
menggunakan free-range SunSPOT (FR-SP) [17] yang dipasang pada paha kanan user
(Gambar 4).
Dalam setiap FR-SD, terdapat sensor 3¬ axis accelerometer
(LIS3L02AQ) yang dapat digunakan untuk mengukur pergerakan dan orientasi dari
sensor yang dipasang [18]. Setiap SunSPOT devices menjalakan Java virtual
machine (VM) yang disebut "Squawk" dan dapat diprogram dengan
menggunakan library yang didapatkan dari SunSPOT SDK [17].
Untuk menjembatani komunikasi antara workstation user dan
FR-SP, sebuah SunSPOT base station device (BS-SD) dipasang dalam laptop yang
digunakan dalam ujicoba dengan berbasis koneksi USB. BS-SD berfungsi sebagai
gateway radio antara FR-SP dan workstation. Komposisi umum dari FR-SP, BS-SD
dan workstation seperti ditunjukkan dalam gambar berikut.
Gambar 3. Konfigurasi Umum SunSPOT Ujicoba
Dalam ujicoba yang dilakukan, dua orang user diinstruksikan
untuk melakukan tiga aktivitas yang diujikan dalam paper ini yaitu ”BERDIRI”,
”BERJALAN” dan ”DUDUK”. Setelah dataset training didapatkan. Ujicoba
selanjutnya dilakukan dengan meminta untuk kedua user untuk melakukan aktifitas
serupa dan dilakukan pengenalan dari data-data baru dari sensor accelerometer
di kesempatan tersebut.
Gambar 4. Pemasangan SunSPOT Device Pada Paha Kanan User
Dalam Ujicoba.
Prototipe implementasi untuk pengenalan aktivitas fisik user
dikembangkan dengan barbasis bahasa pemrograman Java seperti yang ditunjukkan
dalam Gambar 5 dibawah.
Dalam prototipe awal yang dibangun dan dilaporkan didalam
paper, data training dikumpulkan dari pengamatan untuk aktifitas-aktifitas yang
diuji selama sekitar 15 menit. (300 data). Pengujian kemudian dilakukan dengan
pengambilan sample data uji sebanyak 30 data. Masing masing data terdiri dari
data sensor accelerometer dari setiap sumbu (x,y,z), untuk masing-masing
aktivitas. Dari ujicoba yang telah dilakukan untuk tiga aktivitas sederhana
pada skenario ujicoba diatas dengan 30 data uji, didapatkan akurasi yang
tinggi, dimana seluruh data uji untuk tiga aktifitas tersebut dapat dikenali
semuanya dengan akurasi 100%.
KESIMPULAN
Dalam paper ini sebuah model pengenalan aktifitas dengan
basis sensor accelerometer telah berhasil dikembangkan. Model tersebut kemudian
diimplementasikan dalam sebuah prototipe berbasis bahasa Java. Ujicoba
dilakukan dengan data-data yang didapatkan dengan akuisisi
data langsung terhadap tiga aktifitas fisik yang umum dilakukan seseorang yaitu
: Berdiri, Duduk dan Berjalan. Aktifitas fisik user yang akan dikenali direkam
dengan dengan menggunakan accelerometer tunggal pada sensor SunSPOT, yang
dipasang pada posisi paha kanan user tersebut. Hasil ujicoba yang dilakukan
menunjukkan hasil yang tinggi untuk mengenali tiga aktifitas fisik tersebut.
Pengembangan kedepan yang kami rencanakan adalah menggunakan
prototipe ini untuk mengenali aktifitas fisik user yang lebih banyak dan
komplek lainnya misalnya bersepeda, menari, atau kondisi lainnya misalnya
terjatuh (fall detection). Untuk itu penggunaan, sensor yang lebih banyak dan
dipasang pada beberapa lokasi pada tubuh user diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA
[1] M.
Satyanarayaman, "Pervasive Computing : Vision Challenges," IEEE
Personal Communications, vol. 8, pp. 10-17, August 2001.
[2] M. Weiser,
"The Computer of the 21st
Century," IEEE Personal
Communications, vol. 8, pp. 10-17, 1998.
[3] M.
Baldauf, et al., "A Survey on Context-Aware Systems," Int. Journal Ad
Hoc and Ubiqitous Computing, vol. 2, pp. 263-277, 2007.
[4] A. K. Dey,
et al., "A Context-based
Infrastructure for Smart
Environments," in Proceedings of the 1st International
Workshop on Managing Interactions in Smart Environments (MANSE '99), Dublin,
Ireland, 1999, pp. 114-128.
[5] A.
Ranganathan and R. H. Campbell, "A Middleware for Context-Aware. Agents in
Ubiquitous Computing Environments," in Proceedings of the ACM/IFIP/USENIX
International Middleware Conference, Rio De Janeiro, Brazil, 2003, pp. 143-161.
[6] R.
Goldman. (2010, 3/4/2011). Using the
SPOT Accelerometer. Available:
http://www.sunspotworld.com/docs/AppNo
tes/AccelerometerAppNote.pdf
[7] T.
Denoeux, "A k-Nearest Neighbor Classification Rule Based on
Dempster-Shafer Theory," IEEE
Transaction on Systems, Man and Cybernetics, vol. 25, pp.
804-813, 1995.
[8] A.
Yazdani, et al., "Classification of EEG Signals Using Dempster Shafer
Theory and a K-Nearest Neighbor Classifier," in Proceedings of the 4th
International IEEE EMBS Conference on Neural Engineering, Antalya, Turkey,
2009, pp. 327-330.
[9] G. L.
Rogova and V. Nimier, "Reliability in Information Fusion : Literature
Survey," in Proceeding of the 7th
International Conference on
Information Fusion, Stockholm,
Sweden, 2004, pp. 1158-1165.
[10] I. Bloch,
"Some aspects of Dempster
Shafer evidence theory for classification of multi-modality
medical images taking partial volume effect into account," Pattern
Recognition Letters, vol. 17, pp. 905 - 919 1996.
[11] S. L.
H´egarat-Mascle, et al., "Application of Dempster–Shafer Evidence Theory
to Unsupervised Classification in Multisource Remote Sensing," IEEE
Transactions on Geoscience and Remote Sensing, vol. 35, pp. 1028-1037, 1997.
[12] D.
Preuveneers and Y. Berbers, "Quality Extensions and Uncertainty Handling
for Context Ontologies," in In: Workshop on Context and Ontologies: Theory,
Practice and Applications, Riva del Garda, Italy, 2006, pp. 62-64.
[13] E.
Cortes-Rello and F. Golshani, "Uncertain reasoning using the
Dempster-Shafer method: an
application in forecasting and marketing management,"
Expert Systems, vol. 7, pp. 9-18, 1990.
[14] X. Guan, et
al., "Study on Algorithms
of Determining Basic Probability Assignment Function in
Dempster-Shafer Evidence Theory " in International Conference on Machine
Learning and Cybernetics, Kunming, China, 2008, pp. 121 - 126.
[15] G. Shafer,
A Mathematical Theory of Evidence,: Princeton University Press, 1976.
[16] A. O.
Boudraa, et al., "Dempster
Shafer’s Basic Probability Assignment
Based on Fuzzy Membership Functions," Electronic
Letters on Computer Vision and Image Analysis vol. 4, pp. 1-9, 2004.
[17] SunLabs. (2008, 5/9/2011). SunTM Small Programmable
Object Technology (Sun SPOT) Theory of Operation.
[18] R. Goldman.
(2007, 3/9/2010). Using
the LIS3L02AQ Accelerometer. Available:
http://www.sunspotworld.com/docs/A ppNotes/AccelerometerAppNote.pdf
Tidak ada komentar:
Posting Komentar